Home » Opini

Category Archives: Opini

Memanusiakan Manusia, Sudahkah Kita?

Tulisan ini sejatinya diterbitkan di situs internet KEMANT UGM (yang lama) pada 22 Oktober 2012. Kritik ini ditulis oleh Ali, mahasiswa Antropologi Budaya UGM angkatan 2008 (bukan Ali yang angkatan 2012). Diterbitkan kembali pada penghujung tahun 2014.


Ilustrasi foto oleh Ali (2012)

(Sebuah kritik implementasi teori Liminalitas dalam praktik Inisiasi Mahasiswa Baru)

Oleh: Ali*

Oktober, bulan yang cukup panas di kalangan pegiat Himpunan Mahasiswa Jurusan Keluarga Mahasiswa Antropologi (KEMANT). Pada bulan tersebut, akan diadakan sebuah acara akbar yang diselenggarakan setahun sekali, Inisiasi. Sebuah ritual penyambutan mahasiswa muda yang dikultuskan sebagai upacara penerimaan anggota ke dalam komunitas baru. Menjelang hari puncak inisiasi, konstelasi dua tingkat kakak angkatan mahasiswa termuda akan semakin intens dengan persiapan acara. Atmosfer tegang akan semakin terasa ketika hitungan mundur semakin dekat menuju hari puncak.

Dalam ritus yang dikultuskan ini, terdapat tiga pihak yang berperan penting. Pihak pertama, yang paling memiliki otoritas ketika berada pelaksanaan acara di lapangan, adalah Senior. Pihak kedua yang memiliki otoritas lebih lemah karena faktor usia dan struktur sosial yang telah terbentuk ketika di lapangan, adalah panitia. Pihak ketiga, adalah Mahasiswa Baru (Maba) yang dianggap sebagai pihak liminal, pihak yang di ambang proses transformasi karena belum berstatus mahasiswa dan belum sepenuhnya meninggalkan status sebagai siswa Sekolah Menengah Atas.

Secara oral, sejak pertama kali masuk, sangat ditekankan semua mahasiswa Antropologi wajib mengikuti inisiasi untuk memperoleh status sebagai anggota KEMANT. Bila tidak mengikuti ritus tersebut, maka seseorang tidak berhak memiliki status sebagai anggota KEMANT. Legitimasi penolakan status keanggotaan ini sesuai dengan amanat Anggaran Dasar KEMANT dalam Bab 4 pasal 7 yang berbunyi “Anggota KEMANT adalah mahasiswa Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, yang disahkan melalui proses Inisiasi“(i).

Artikel ini akan membahas di mana praktek Inisiasi dari tahun ke tahun melegitimasikan landasan pada penelitian untuk penulisan disertasi yang dilakukan oleh Victor Turner di masyarakat Ndembu, Zambia. Publikasi hasil risetnya berjudul The Ritual Process, Structure and Anti-Structure (1969) menjadi pijakan pihak panitia untuk mengadakan Inisiasi. Inti pembahasan artikel ini adalah bagaimana sebuah HMJ ilmu Antropologi di sebuah negeri yang berjarak ribuan Kilometer dari subyek penelitian Turner, mengaplikasikan temuannya dalam sebuah ritus bernama Inisiasi.

Liminalitas
Liminalitas, sebuah kata yang santer terdengar dalam berbagai dialog terkait inisiasi. Pra dan pasca acara, kata ini sering terucap untuk menyebut status in betwixt yang sedang dialami oleh mahasiswa baru peserta Inisiasi. Oleh berbagai pihak pengisi acara inti inisiasi, kata liminalitas dilekatkan dengan Victor Turner. Banyak yang tidak sadar, hal ini adalah sebuah kesalahan rujukan akademis, definisi liminalitas ada jauh sebelum publikasi hasil riset Turner di tahun 1960an. Istilah liminalitas tidak berasal dari Victor Turner, melainkan dari gagasan Arnold van Gennep yang dipublikasikan pada tahun 1909 dalam buku berbahasa Perancis berjudul Les Rites de Passage.

Van Gennep dalam bukunya Rites of Passage (versi terjemahan, terbit tahun 1960) menjelaskan siklus manusia yang memiliki transisi status dalam jangka waktu tertentu dari lahir hingga ajal tiba. Transisi tersebut biasa ditandai dengan sebuah selebrasi untuk merayakan perpindahan status. “For every one of these events, there are ceremonies whose essential purpose is to enable the individual to pass from one defined position to another which is equally defined“ (van Gennep, 1960:3). Di tengah proses perpindahan tersebut, seorang manusia dianggap liminal, ada di antara status. Inisiasi adalah sebuah cara selebrasi perpindahan status. Turner dalam bukunya The Ritual Process menyebutkan secara jelas kiblatnya terhadap definisi liminalitas seperti yang telah ditulis oleh Van Gennep, “This theme is in the first place represented by the nature and characteristics of what Arnold van Gennep (1909) has called the liminal phase of Rites de Passage“ (Turner, 1969: 94). Dengan ketegasan dari Turner tersebut, maka disorientasi penyebutan teori liminalitas sebagai milik Turner tentu perlu diluruskan.

Penelitian Turner mengenai masyarakat Ndembu sendiri berkisar pada implikasi dari selebrasi transformasi status melalui inisiasi yang menciptakan struktur dan anti-struktur. Hal yang menjadi perhatiannya dalam buku The Ritual Process adalah bagaimana masyarakat Ndembu, mengadakan ritus Inisiasi bagi calon kepala suku beserta istrinya (ibid: pp. 97-113). Untuk mencapai posisi sebagai kepala suku, calon kepala suku harus rela direndahkan derajatnya oleh warga suku Ndembu, calon kepala suku tersebut harus diam, patuh didekatkan secara simbolik dengan kematian dan menerima berbagai hinaan dalam proses Inisiasi. Ia dan istrinya juga diharuskan menggunakan kostum tertentu untuk menandakan bagaimana dirinya sedang ada dalam status terendah dalam masyarakat sebelum mencapai posisi tertinggi sebagai pemimpin.

Proses ritual Inisiasi untuk mencapai posisi kepala suku inilah yang disebut sebagai struktur dan anti struktur oleh Victor Turner. Fantasi perimbangan kekuatan yang bertimbal balik dalam ritus (yang kuat tampak lemah, yang lemah tampak kuat) menjadi inti dari buku yang menjelaskan mengenai Inisiasi di masyarakat Ndembu. Ia menyebut “The stronger are made weaker; the weak act as though they were strong. The liminality of the strong is socially unstructured or simply structured; that of the weak represents a fantasy of structural superiority.“ (ibid: 168)

Hal ini tentu menjadi kesalahan bagi interpretasi yang umum beredar bahwa subyek penelitian Victor Turner adalah Inisiasi sebagai ritus yang diadakan bagi penerimaan anggota baru. Anggapan penerimaan anggota baru dalam masyarakat Ndembu tercermin dalam sebuah kalimat yang dibuat oleh panitia, “Acara ini diselenggarakan atas pertimbangan studi Turner mengenai ritus di Ndembu tersebut“(ii) yang tertulis dalam latar belakang proposal pengadaan acara Inisiasi tahun 2012. Kalimat tersebut tidak jelas sebenarnya, karena Turner sendiri mempublikasikan beberapa buku dengan fokus beberapa ritus yang ada dalam masyarakat Ndembu.

Setiap tahun, pola substansi yang sama dengan susunan kalimat dan paragraf yang berbeda dimunculkan dalam proposal yang berfungsi sebagai legitimasi sahnya acara Inisiasi. Pada akhirnya, serangkaian pembenaran argumentatif dengan berbagai persyaratan birokratif yang telah terpenuhi menemui hasil finalnya berupa implementasi lapangan. Dalam hal ini, latahnya pihak panitia tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pemilihan landasan teori dipertahankan melalui mekanisme oral secara turun temurun antar angkatan. Kebijakan yang mereka buat, adalah hilir dari mekanisme kompleks dari hulu dan adanya tekanan untuk mempertahankan legitimasi rujukan teori yang salah secara akademis sebagai landasan penerimaan mahasiswa baru.

Generalisasi
Di dalam Antropologi, terdapat dua kutub pengembangan temuan, pertama adalah para pengembang teori yang membuat klaim hakikat manusia secara umum, dan kedua, pengembang teori berbasis pada data temuan yang ada dari observasi langsung. Dua karakter yang saling beroposisi ini menjadi dua kutub yang sulit disatukan, kutub pertama disebut dengan temuan dengan klaim nomothetic dan kutub kedua menjadi temuan dengan klaim ideographic. Kutub pertama membuat generalisasi atas temuan-temuan, sementara pihak kedua menekankan ciri khas tiap wilayah yang tidak mungkin sama (Ingold, 2008:70).

Temuan sebuah akademisi ilmu non-eksak untuk kemudian digeneralisasikan terjadi terhadap manusia di wilayah lain menjadi bahan perdebatan yang tak ada habisnya di kalangan pegiat ilmu sosial, Antropologi salah satunya. Sebagian akademisi menganggap unsur dari sebuah klaim yang telah melalui proses akademis terhadap manusia di satu lokasi secara otomatis bisa diaplikasikan terhadap manusia yang ada di lokasi lain. Analogi yang sering digunakan oleh pihak pertama ini adalah bagaimana makhluk hidup di berbagai tempat memiliki pola yang sama. Koentjaraningrat menggambarkan golongan ini sebagai pihak yang “Mendasarkan anggapan mereka atas kenyataan bahwa hanya peristiwa dan gejala yang masih terjalin dalam gerak peredaran alam semesta ini bersifat mantap, dan dapat berulang kembali dalam ruang dan waktu“ (1979:46).

Di sisi lain sebagian akademisi mengungkapkan tiap lokasi memiliki ciri khasnya masing-masing yang tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Koentjaraningrat menuliskan pihak kedua ini beranggapan “Manusia adalah suatu makhluk yang untuk sebagian besar telah melepaskan diri dari proses alamiah, maka tingkah lakunya tidak bersifat mantap untuk seluruh umat manusia, dan tingkah laku individu yang terjadi pada suatu lokasi dan detik dalam ruang dan waktu tak dapat berulang lagi“(ibid).

Kelemahan utama dari generalisasi ini adalah, para pegiatnya menganggap unsur pembentuk temuan yang mereka dapati akan berlaku sama di semua tempat. Basis ide semacam itu, oleh sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah kesalahan, dan dianggap sebagai bias positivisme yang berlaku dalam bidang ilmu eksak. Hal ini dikarenakan, para pegiat teori generalisasi temuan menganggap aktivitas sosial manusia memiliki pola seperti organisme hidup yang tetap dan tak bisa berubah. Kelemahan dari para generalisator tersebut adalah, ketika ditemukan unsur pembentuk satu aspek di satu wilayah, maka aspek tersebut akan dianggap berlaku sama di wilayah lain. Evans Pritchard dikutip dalam kuliah Tim Ingold mengungkapkan kritiknya terhadap gagasan ini:

“Evans Pritchard, in his 1961 Manchester lecture, pointing an accusing finger at Radcliffe Brown while warning of the dangers of drawing analogies from biological sciences and of assuming that there are entities, analogous to organisms, that might be labeled societies. One may be able to understand its physiology of an organism without regard to its history –after all, horses remain horses and do not change into elephants- but social systems can and do undergo wholesale structural transformations.“ (Ingold, 2008:77)

Apa hubungan dari wacana teori ini dengan Liminalitas? Victor Turner memang mengacu pada Arnold van Gennep yang merupakan bagian dari kutub Antropologi nomothetic mengenai definisi dari liminalitas. Di sisi lain, Turner sendiri adalah bagian dari kutub Ideographic dalam Antropologi, yang menekankan klaim dari hasil temuan adalah ciri khas dengan berbagai kompleksitas wilayah temuannya, dan tidak bermaksud untuk membuat preposisi secara general.

Wacana generalisasi teori dengan acara Inisiasi berhubungan sangat erat. Bukti keterkaitannya adalah teori Liminalitas menjadi legitimasi penyelenggaraan acara yang dipilih oleh panitia setiap tahunnya. Kondisi yang ada dalam masyarakat Ndembu sebagai subyek penelitian Turner, dianggap dialami oleh mahasiswa baru Antropologi. Lebih spesifik, kondisi in betwixt yang dialami calon kepala suku Ndembu diinterpretasikan dianggap dialami oleh mahasiswa baru. Asal tempel status ini cukup berbahaya karena kemudian berujung pada anggapan sahnya tindak dehumanisasi yang diterapkan pada calon kepala suku Ndembu untuk diaplikasikan terhadap mahasiswa baru.

Kita lebih sering memahami ritual inisiasi sebagai sebuah potongan teks berupa penerimaan anggota berstatus baru di dalam masyarakat, tanpa melihat konteks masyarakat Ndembu secara keseluruhan. Hal ini membuat saya teringat pendapat dari Peter Skerry, “Living values and norms can only be understood when placed into the institutional and societal context where they actually operate and when they must compete with other values and norms” (Skerry,2003:1). Informasi yang beredar secara umum adalah bagaimana pelaksanaan ritus Inisiasi di masyarakat Ndembu, tidak konteks masyarakat Ndembu secara keseluruhan.

Ndembu
Sebelum membahas lebih jauh mengenai implementasi Inisiasi a la Antropologi, ada baiknya mengetahui sedikit bagaimana kondisi masyarakat Ndembu yang diteliti oleh Turner. Masyarakat Ndembu yang ada di negara Zambia tinggal di sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Republik Congo dan Angola. Tinggal dalam wilayah Mwinilunga, orang-orang Ndembu mengklaim diri sebagai keturunan agresor dari kerajaan Luunda di Mwantiyanvwa. Di sekeliling masyarakat Ndembu, hidup suku Lwena, Ayisenga, Amahumbu, Ishinde dan Akosa (gambaran visual wilayah bisa dilihat dalam buku The Drums of Affliction, hal. 9).

Orang-orang Ndembu adalah orang-orang yang hidup dengan cara berburu dan bercocok tanam. Mereka hidup dengan sistem politik kepemimpinan seorang kepala suku, dengan empat wakil (Turner, 1969: 10). Masyarakat Ndembu adalah masyarakat yang memiliki karakter patrilineal dan virilokal sangat kuat. Akses terhadap kekuasaan, tanah, tempat tinggal dan status berkaitan dengan status kekerabatan yang ia sandang. Anggota masyarakat Ndembu disebutkan memiliki banyak preferensi sebagai bagian dari banyak kultus yang ada di wilayahnya. Berbagai kultus tersebut memiliki banyak ritual yang kemudian mendominasi kehidupan masyarakat Ndembu. Turner dalam penelitian lapangannya kemudian menyadari, bahwa aspek yang paling berperan dalam masyarakat Ndembu adalah aspek religi yang terwakilkan dalam berbagai ritus simbolik. Salah satu dari sekian kultus yang ada tersebut adalah Inisiasi.

Pertanyaan utama dari penejelasan di atas adalah, apakah ada kemiripan antara laporan etnografi suku Ndembu yang penelitiannya dilakukan pada tahun 1950-1954 dengan kondisi mahasiswa baru?

Inisiasi A la Antropologi dan Psikologi Massa
Peniruan ritual subyek penelitian Turner yang memiliki kelemahan secara teoritis ini diperburuk dengan pemahaman yang tidak optimal oleh mayoritas pihak bernama senior dalam acara inisiasi. Dari pembicaraan empiris, diketahui tidak semua senior pernah membaca buku The Ritual Process yang ditulis oleh Turner. Pengetahuan mengenai teori liminalitas didapatkan berdasar pengalaman empiris sebagai peserta, panitia, dan dari diskusi mengenai inisiasi. Transfer pemahaman yang tidak berdasar pembacaan buku secara langsung ini mengakibatkan gambaran mengenai inisiasi menjadi banal, di mana kekerasan dianggap sebagai poin sangat krusial dalam transisi status siswa Sekolah Menengah Atas menuju mahasiswa Antropologi.

Ritual Inisiasi yang pada dalam tradisi aslinya berfungsi sebagai proses penerimaan status anggota baru sebagai pemimpin dalam komunitas Ndembu menjadi misinterpretatif. Diakibatkan proses penyampaian konten yang tidak sempurna, beberapa pihak di kalangan senior menganggap Inisiasi dengan tafsiran yang berbeda-beda. Beberapa pihak mengungkapkan Inisiasi sebagai ajang kumpul teman lama yang tidak bertemu, sebagian pihak mengungkapkan Inisiasi agar mahasiswa baru menjadi tangguh di lapangan, dan tak sedikit yang berniat untuk meredam ego mahasiswa baru yang dianggap sok-sokan.

Dalam ajang Inisiasi, ada premis umum yang muncul kalau mahasiswa Antropologi harus kuat ditempa kekerasan baik fisik maupun verbal yang mungkin timbul di masyarakat dalam penelitian sebenarnya. Asumsi yang umum berkembang ini menjadi alasan timbulnya makian sangat kasar dan kekerasan fisik yang ditujukan oleh pihak yang baru belajar Antropologi. Terhadap premis umum ini, testimoni satir terucap dari salah satu dosen muda Antropologi yang mengaku dirinya tak pernah mendapat kekerasan dalam penelitian lapangan seperti yang terjadi dalam praktek Inisiasi.

Satu hal menarik yang tidak pernah dibahas dalam proses pembuatan legitimasi Inisiasi oleh panitia maupun senior, adalah pertanyaan Turner sendiri yang tertulis dalam Kesimpulan The Ritual Process dan belum terjawab dalam penelitiannya tentang proses Inisiasi kepala suku Ndembu. Turner penasaran, apakah proses transformasi status dimanfaatkan sebagai pelarian dari tekanan sehari-hari oleh para partisipan?. “Do they undergo all these penances and reversals merely out of boredom as a colorful change from daily routines, or in response to resurgent repressed sexual or aggressive drives, or to satisfy certain cognitive needs for binary discrimination, or for some other set of reasons?“ (Turner, 1969: 200). Pertanyaan ini berasal dari berbagai indikasi terjadinya proses yang ia anggap sebagai pelarian dari tekanan sehari-hari dalam pengamatannya (ibid: pp 201-203).

Yang terjadi dalam proses inisiasi menurut interpretasi saya adalah terjadinya Psikologi Massa di antara senior. Dalam tiga kelas pelaku Inisiasi, Senior, Panitia, dan Peserta, Senior adalah pihak yang berkuasa. Dengan jumlah dominan dan perasaan yang sama sebagai yang dituakan, sifat massa mewujud dalam kumpulan senior ketika proses Inisiasi. Terjadinya massa, menurut Freud memungkinkan hilangnya sensor Ego dan Super Ego yang mengekang It(iii) dalam manusia. “Orang yang tergabung dalam suatu massa merasa tidak takut lagi melanggar norma-norma yang ada, hal-hal yang disimpan dalam komplek terdesak yang bersifat laten tersebut muncul keluar, merealisasikan dirinya dengan bertindak, berbuat semaunya tanpa kendali“ (Walgito, 1994: 103). Berbekal pemahaman misinterpretasi pemahaman hasil riset Victor Turner, pihak senior merasa sebagai pemilik legitimasi untuk melakukan kekerasan. Sebagai massa terorganisir, pihak senior memenuhi lima kriteria yang ada: impulsif, mudah sekali tersinggung, sugestibel, tidak rasional, dan penguatan aktivitas (ibid: pp.101-102). Kondisi psikologi massa yang menciptakan peluang tindakan dehumanisasi ini acapkali tiap tahun menimbulkan korban dari pihak Mahasiswa baru, baik berupa trauma psikologis, maupun luka fisik.

Ironisnya, mekanisme Evaluasi dan Pembalasan pasca Inisiasi menjadi ajang pembenaran tindakan kekerasan yang terjadi dalam proses Inisiasi. Meskipun topik mengenai kekerasan sering dikritik dalam tahap Evaluasi, namun tidak memberi perubahan berarti dalam pelaksanaan Inisiasi selanjutnya. Salah satu kejadian yang mencerminkan adanya korban adalah pelaporan terjadinya tindak kekerasan pasca Inisiasi pada tahun 2011.

Satu korban yang mengaku, menjadi wakil dari sekian dari korban lainnya yang memilih diam dan pasrah menerima keadaan. Sudah menjadi rahasia umum, di setiap angkatan selalu ada perbedaan pendapat antara para pendukung terjadinya kekerasan dan pihak yang anti kekerasan dalam ritus Inisiasi. Pihak kedua dominan menjadi golongan minor di tiap angkatan, yang kemudian memilih peran pasif dan takut menghadapi hegemoni interpretasi umum.

Yang sangat disayangkan adalah, adanya sebagian pihak senior yang menganggap kejadian pelaporan tindak kekerasan tahun 2011 sebagai sebuah insiden, tidak sebagai fenomena gunung es implikasi dari sistem yang bermasalah. Terhadap adanya pandangan ini, maka saya teringat pertanyaan dari seorang Guru Besar Antropologi Budaya, terhadap para senior yang melakukan kekerasan, “Apa yang membuat anak-anak Antro ini merasa tindakan mereka yang menyakiti dan merusak properti orang lain bisa dibenarkan?(iv)“ Sebuah pertanyaan yang belum dijawab hingga sekarang.

Perubahan Zaman dan Prediksi Turner
Victor Turner dalam bukunya The Ritual Structure mengutip dari Lewis Henry Morgan pada tahun 1877, turut memprediksi terjadinya globalisasi dan perubahan. “Democracy in government, brotherhood in society, equality in rights and privileged, and universal education, foreshadow the next higher plane of society to which experience, intelligence and knowledge are steadily trending. It will be a revival, in a higher form of liberty, fraternity, and fraternity of ancient gentes“ (L.H Morgan dalam Victor Turner, 1969: pp:129-130). Menanggapi pernyataan dari L.H Morgan tersebut, Turner memprediksi adanya pihak antagonis abadi (sebuah istilah yang dipinjam dari Freud) yang akan mendefinisikan kondisi manusia dan hubungannya dengan sesama manusia (Turner,1969: 130). Melihat pada keadaan yang ada dalam kompleksitas persiapan, pelaksanaan, dan selesainya acara Inisiasi, sepertinya cukup menjadi cermin prediksi-prediksi yang ada.

Pertanyaan dan Semangat Perubahan
Pelaksanaan Inisiasi pada tahun ini sendiri seperti yang telah dikabarkan, akan mendapat pengawasan langsung dari jurusan karena kehebohan tahun 2011. Berdasar pengamatan, pihak jurusan yang bertindak reaksioner pada zaman 2008 menimbulkan rasa penasaran, apakah di tahun selanjutnya (2013) pihak jurusan akan kembali lepas tangan?

KEMANT sebagai sebuah Himpunan Mahasiswa Jurusan bernaung secara langsung di bawah Jurusan Antropologi. Hal ini seperti yang sudah tercantum dalam Anggaran Dasar pasal 3 ayat a yang menyebutkan “KEMANT di bawah naungan Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada“. Implikasi dari adanya pasal tersebut adalah pihak jurusan juga bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan oleh organisasi yang bernaung di bawahnya. Adanya perubahan di tahun ini dengan kehadiran dosen dan adanya semangat untuk mencegah kekerasan oleh sebagian senior, semoga mampu memberikan reduksi tindakan kekerasan secara signifikan.

Berkaca pada kasus yang terjadi pada institusi pendidikan lain, seperti kasus STPDN di mana kekerasan menimbulkan korban membuat perubahan besar-besaran, haruskah ada korban agar terjadi perubahan?. Yang menjadi pertanyaan utama dari artikel ini adalah, apakah konsep mengenai transformasi status dari satu status untuk diterima dalam struktur sosial yang lain harus melalui ritus yang sarat dengan kekerasan?. Tindak kekerasan selain untuk membela diri diancam hukuman melalui berbagai pasal dalam Undang-Undang. Mengenai misinterpretasi teori Turner yang kemudian dikukuhkan sebagai legitimasi untuk melakukan kekerasan, maka apalah beda kita dengan Anwar Congo(v) yang merasa memiliki hak untuk melakukan tindak kejahatan (menghilangkan nyawa), karena ia merasa memiliki legitimasi dari pemerintah?

Sebagai penutup, saya akan mengingatkan kembali pembaca kepada judul yang terinspirasi oleh perkataan seorang Profesor Antropologi Budaya UGM. Dalam sebuah kuliah, beliau menyebut Antropologi sebagai sebuah perspektif yang memanusiakan manusia di antara ketidakadilan berbagai institusi memandang berbagai masalah kemanusiaan. Sudahkah kita memanusiakan manusia?. Anda sendiri yang bisa menjawabnya ketika Inisiasi nanti.

DAFTAR PUSTAKA
Gennep van, Arnold. 1960. The Rites of Passage. Chicago : The University of Chicago Press.
Ingold, Tim. 2008. Anthropology is not Ethnography (Buku Elektronik). The British Academy Artikel ini disampaikan oleh Tim Ingold dalam dua kuliah umum di Inggris.
Koentjaraningrat. 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Skerry, Peter. -. Political Islam in the United States and Europe (Buku Elektronik).
Turner, Victor. 1969. The Ritual Process, Structure and anti-structure. New York: Cornell University Press.
Turner, Victor. 1968. The Drums of Affliction, A Study of Religious Processes among the Ndembu of Zambia. New York: Cornell University Press.
Walgito, Bimo. 1994. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta : Andi Offset.

Catatan kaki:
i. Pasal ini dikutip dari AD/ART hasil dari Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Antropologi Budaya yang disahkan pada Sabtu, 26 Mei 2012.
ii. Kutipan berasal dari halaman 1 Proposal Inisiasi KEMANT tahun 2012.
iii. It adalah dorongan-dorongan, nafsu-nafsu yang pada dasarnya dorongan dorongan atau nafsu nafsu tersebut membutuhkan emenuhan ingin muncul, ingin keluar,Ego merupaan sensor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya, terutama dengan norma-norma yang ada, di sini berfungsinya pikiran, Super Ego merupakan kata hati yang berhubungan dengan baik buruk (Walgito, 1994:102). Definisi Walgito berasal dari gagasan yang dilontarkan oleh Freud.
iv. Pertanyaan dari pendekar Antropologi tersebut disampaikan oleh Sita Hidayah M.A dalam rapat penyampaian materi inisiasi dari panitia ke senior pada tanggal 8 Oktober 2012.
v. Anwar Congo adalah tokoh yang mengaku dalam film Act of Killing (Jagal) telah melakukan pembantaian terhadap ribuan simpatisan PKI di sekitar Medan di era 1965-1966.

*Mahasiswa Antropologi Budaya UGM 2008. “Scripta Manent”