Home » Sejarah

Category Archives: Sejarah

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian III: Masa Pengembangan

Jumlah mahasiswa antropologi yang dapat menyelesaikan studinya bertambah antara lain, Drs. Soehardi, Drs. Buchari dan Drs. Gatut Murniatmo. Drs. Soehardi kemudian direkrut sebagai tenaga pengajar di jurusan. Pada tahun-tahun berikutnya tenaga pengajar bertambah dengan diterimanya Dra. Tuty Gandarsih, lulusan Universitas Padjajaran dan Drs. Amin Yitno (UGM) sebagai tenaga pengajar di jurusan.
(lebih…)

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian II: Masa Pertumbuhan

Tahun 1968 jurusan kembali meluluskan enam orang mahasiswa tingkat Sarjana Muda yaitu Sjamsir Alam, Abdul Moefti, Sjafri Sairin, Gatut Murniatmo, Ariani dan Mulyadi. Dan beberapa bulan kemudian disusul oleh lulusan lainnya. Pada saat wisuda inilah kemudian mahasiswa bertemu dengan Drs. Kodiran, seorang Antropolog lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada yang bersedia menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Namun, sebagai satu-satunya Antropolog by training yang ada di Universitas Gadjah Mada tentu beliau mempunyai keterbatasan waktu untuk mengajar. Dengan upaya keras akhirnya Drs. S. Budhi Santoso dan Drs. Jimmy Tan atau J. Dananjaya bersedia untuk mengajar di jurusan Antropologi UGM.
(lebih…)

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian I: Awal Kebangkitan

Berdasarkan periode pendaftaran mahasiswa angkatan pertama, disepakati bahwa kelahiran jurusan Antropologi adalah bulan September 1964, tanpa menentukan tanggal kelahirannya. Dengan dibukannya jurusan ini, pada tahun itu di Indonesia telah berdiri tiga jurusan Antropologi. Universitas Indonesia (1957), kemudian di Universitas Padjajaran (1960). Pluralitas suku bangsa-suku bangsa dan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi salah satu alasan utama berdirinya jurusan ini. Diharapkan dengan dibangunnya jurusan ini akan mampu mendidik dan menyiapkan tenaga ahli di bidang kebudayaan untuk menjembatani dan mengambil bagian penting dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kemungkinan muncul akibat perbedaan kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia.
(lebih…)