Home » Profil Jurusan » Kerjasama dan Kegiatan Mahasiswa

Kerjasama dan Kegiatan Mahasiswa

Tandem

tandem

Di Jurusan Antropologi Budaya UGM, juga ada yang namanya tandem. Apakah tandem yang dimaksud? Tentunya bukan dua atau lebih sepeda yang dirakit menjadi satu lalu dikayuh berbarengan itu. Tandem di sini maksudnya adalah program kerjasama dengan universitas-universitas luar negeri dalam rangka melakukan suatu riset atau penelitian lapangan. Dengan kata lain, tandem adalah pengiriman pelajar baik yang dari luar ke sini, atau yang dari sini ke luar negeri dengan tujuan untuk meneliti di suatu daerah dengan tema serta topik tertentu.

Misalnya yang sudah tiga tahun ini rutin diadakan setiap tahunnya, yakni tandem mahasiswa University of Toronto, Canada. Beberapa mahasiswa dari universitas tersebut yang datang dari berbagai latar belakang keilmuan, khususnya antropologi bekerjasama dengan kampus kita dalam proyek riset di Kalimantan (2009 dan 2010), serta yang baru saja selesai Agustus lalu ini adalah Teknik Penelitian Langan (TPL) ke Dieng.

Sebelum berangkat ke Kalimantan dan Dieng, para mahasiswa asing tersebut belajar terlebih dahulu Bahasa Indonesia dan beberapa persiapan lainnya di sini selama kurang lebih 2 bulan dan setiap dari mereka didampingi oleh seorang mahasiswa Antropologi Budaya UGM sampai program selesai. Si mahasiswa asing bisa tinggal di rumah si mahasiswa sini atau bisa juga menyewa kamar kos, terutama jika rekan tandemnya tidak punya rumah di Jogja karena berasal dari kota atau daerah lain.

Selain itu, yang juga rutin sejak 2004 adalah tandem Jerman kerjasama dengan Albert-Ludwigs University, Freiburg. Tandem yang satu ini bukan hanya pengiriman pelajar yang sifatnya satu arah, melainkan dua arah alias pertukaran pelajar. Jadi selain mahasiswa dari Jerman datang ke sini untuk riset bersama mahasiswa Antropologi Budaya UGM selama 1 bulan, setelah itu giliran mahasiswa dari jurusan kita yang berangkat ke Jerman, tepatnya ke Freiburg. Namun, tentu saja melalui proses seleksi. Tidak seperti tandem lainnya yang siapa berminat, silakan daftar.

Dita, mahasiswi angkatan 2010 yang pernah menandemi seorang mahasiswi asing dari Toronto untuk proyek riset ke Dieng mengatakan bahwa dalam tandem terjadi simbiosis mutualisme; ketika mahasiswa asing ke Indonesia, kita bisa sama-sama belajar antar budaya. “Kita belajar tentang mereka, mereka belajar tentang kita. Dan mempererat hubungan antara jurusan kita dengan jrursan mereka”.

Sementara itu Ali, mahasiswa angkatan 2008 yang pernah ke Jerman mengatakan bahwa tandem sangatlah penting dan berguna karena “membuka jaringan dalam lingkup internasional dan memberi kesempatan mendapat sudut pandang baru dalam perspektif antropologis karena terjadi dialog lintas kurikulum”. Sewaktu di Jerman, ia meneliti tentang konflik-konflik etnisitas berbasis agama dan kewargaan (citizenship).

Hasil dari penelitian tandem ini berupa laporan akhir berbentuk artikel yang dipresentasikan dalam seminar juga dipublikasikan dalam bentuk buku.

Sekadar informasi, mahasiswa baru juga bisa ikut bergabung di berbagai proyek tandem yang ada. Jadi, bagi kalian yang tertarik dan berminat, sumonggo!

Tim Penelitian Lapangan (TPL)

Penelitian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk proses pengumpulan data. Selain dengan melakukan studi pustaka, proses untuk mengumpulkan data juga bisa diperoleh dengan melakukan studi lapangan. Studi lapangan dalam hal ini adalah melakukan penelitian lapangan atau bisa juga dikenal sebagai penelitian etnografi yang merupakan suatu kegiatan penelitian untuk menghasilkan karya etnografi.

Tim Penelitian Lapangan Antropologi atau TPL Antropologi  merupakan salah satu agenda yang sering dilakukan oleh mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini terdiri dari tim peneliti  mahasiswa Antropologi Budaya UGM untuk melakukan penelitian bersama. Dalam menjalankan penelitian , peneliti biasanya datang dan membaur dengan masyarakat yang diteliti melalui beberapa pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang segala kehidupan masyarakat dan kebudayaannya. Pemahaman dan penerapan teori-teori  dan teknik – teknik  penelitian mempunyai arti yang sangat penting ketika melakukan kegiatan pengumpulan data ini agar menghasilkan karya etnografi yang baik.

Aktivitas TPL Antropologi UGM, rupanya telah rutin dilaksanakan sejak tahun 1983 sampai sekarang ini. Daerah Petungkriyono di Pekalongan merupakan lokasi TPL pertama dan telah menjadi lokasi rutin penelitian sampai tahun 2009 lalu, kemudian setelah itu mulai menyambangi daerah-daerah lainnya di sekitar dataran tinggi utara Pulau Jawa. Untuk aktivitas TPL ini biasanya dilakukan selama dua kali dalam masa satu tahun dalam kalender akademik. Waktu yang biasanya dipilih untuk menjalankan TPL ini adalah pada saat hari-hari libur semester ganjil dan semester genap. TPL pada saat liburan semester ganjil biasanya dilaksanakan pada bulan Januari selama dua minggu. Tempat yang biasa dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah daerah-daerah dataran tinggi di Pulau Jawa. Tempat-tempat yang sudah menjadi lokasi penelitian, seperti Petungkriyono, Lebakbarang, Paninggaran dan pada bulan Januari 2012 lalu, lokasi penelitian dipusatkan di daerah Watukumpul, Pemalang, Jawa Tengah.

Untuk TPL yang dilaksanakan pada saat liburan semester genap biasanya jatuh pada bulan Juli. TPL Juli ini merupakan agenda rutin dari setiap angkatan (TPL angkatan) yang dilakukan selama satu bulan lamanya. Beberapa wilayah di Indonesia telah menjadi tempat penelitian untuk TPL Juli ini, seperti Bali dan Kalimantan Barat, sedangkan untuk Juli 2012 kemarin di daerah Dieng.

Kegiatan TPL Antropologi merupakan sesuatu yang penting bagi seorang antropolog. Kegiatan tersebut bisa dikatakan sebagai latihan pengaplikasian atas teori dan metode penelitian yang telah diajarkan di lapangan. “TPL itu sangat penting karena sebagai latihan aplikasi dari teori-teori dan metode yang selama ini kita pelajari,” ujar Asri Ayu Nur Chasanah (Mahasiswi Antropologi Budaya UGM 2011).

Selain itu, sebagai antropolog nantinya akan selalu berhubungan dengan penelitian. Penelitian ini harus dijalankan untuk memperoleh data berdasarkan pengamatannya tentang manusia dan kebudayaan pada suatu suku bangsa tertentu. “Karena kedepannya kerja kita sebagai antropolog sejalan dengan ilmu yang kita pelajari menyangkut penelitian juga,” jelasnya menambahkan. (Arip Syaripudin)

 

Wayang Antro

Setiap tahunnya jurusan antropologi memperingati Dies Natalis dengan sejumlah rangkaian acara di dalamnya, antara lain kuliah umum, pameran fotografi dan seminar. Pada puncaknya ditutup dengan pementasan wayang antropologi. Lebih dikenal dengan sebutan wayang antro. Pementasan ini dibawakan oleh para mahasiswa jurusan antropologi. Mulai dari mahasiswa angkatan atas hingga mahasiswa baru.

Melalui pementasan  ini bakat-bakat para mahasiswa dibidang seni khususnya seni peran dapat tersalurkan dan diapresiasi. “Acara ini membantu saya yang bukan dari ‘orang seni asli’ untuk bisa mengenal seni lebih dalam, dan saya merasa senang bisa terlibat di dalamnya,” ungkap Dian Buana Putri (Parti), salah satu pemain wayang antro pada Dies Natalis 2011 lalu.

Pada tahun 1980-an sampai 1990-an wayang antro sempat terkenal namun setelah itu juga mengalami masa vakum dan mulai dipentaskan kembali tahun 2009 dengan lakon “Burisrawa Rante”, “Sinta Ilang” (2010), dan pada 2011 lalu berjudul “Dursasana Gugur”. Biasanya lakon yang dimainkan mengandung isu-isu yang sedang hangat di lingkuangan kampus. Tujuannya agar tidak membosankan. Seperti yang diungkapkan Diaz A.P selaku dalang wayang antro,“Secara pribadi menurutku, agar tidak membosankan dan nyambung dengan konteks sekarang maka diselipkan ide-ide dan isu-isu aktual”.

Pementasan wayang antro tidak hanya menyajikan seni peran saja, namun juga seni tari dan gemelan. Untuk bergabung menjadi pemain wayang antro biasanya pendaftaran dilakukan secara terbuka untuk seluruh mahasiswa Antropologi Budaya. Setelah para pemainnya terkumpul, barulah didiskusikan dan ditentukan lakon apa yang akan dimainkan pada puncak dies natalis tersebut. Pendaftaran dibuka dua sampai tiga bulan sebelum pementasan, sedangkan untuk latihannya, baik untuk pemeran, penari, sinden dan pengrawit  (penabuh gamelan) dimulai sejak sebulan sebelum pementasan. Namun apabila ada kekurangan jumlah pemain, maka akan ditunjuk oleh sutradara.

“Wayang antro bukan hanya sekedar pertunjukan, tetapi sudah menjadi tradisi dalam antopologi itu sendiri. Selain itu melalui wayang antro, kami juga mencoba ikut serta melestarikan seni pertunujukan tradisional. Bravo wayang antro!” ujar Khairunnisa, selaku ketua KEMANT periode 2012-2013. (Santi Apriani)

 

Kopit

Komando Pitik adalah tradisi tahunan yang selalu dilakukan oleh semua warga Antropologi Budaya UGM. Komando Pitik atau yang sering disebut dengan kopit ini merupakan wadah untuk mempersatukan segala angkatan, dari yang paling tua (terdahulu) hingga yang masih muda.

Komando Pitik? “Karena saat kopit kita kumpul bersama-sama dan rame-rame membakar ayam” jelas Muhammad Syaiful Rohman (Ipul), mahasiswa S2 Antropologi. Selain itu, kopit dimanfaatkan sebagai ajang pengakraban antar angkatan dan dosen. “Saat di kopit tidak ada istilah dosen dan mahasiswa, tapi di sana adalah semua warga Antropologi Budaya yang sama-sama ingin bersenang-senang dan untuk lebih mendekatkan diri antar individu” jelas Muklas Aji Setiawan (Muklas), alumni Antropologi.

Lantas apa saja yang dilakukan saat kopit?

Banyak hal yang dilakukan: masak bersama, bernyanyi bersama, menonton layar tancap. “Yang jelas saat kopit kita bersenang-senang, masalah tugas atau kampus tidak boleh dibahas saat kopit” lanjut Ipul. (Elvina Handayani)

 

JKAI

JKAI (Jaringan kekerabatan Antropologi  Indonesia) adalah sebuah organisasi berbasis kekuargaan yang menjembatani komunikasi antara mahasiswa jurusan Antropologi di seluruh Indonesia. JKAI dibentuk  pada tanggal 6 Agustus 1989 di Wisma Wanagama, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hingga saat ini ada 15 universitas yang termasuk dalam keanggotaan JKAI. Struktur organisasi ini dipimpin oleh seorang Sekretaris Jendral (Sekjen) terpilih dan tiga koordinator wilayah. Setiap koordinator wilayah memimpin beberapa universitas, yaitu :

–          wilayah I meliputi Universitas Malikussaleh (UNIMAL) Aceh, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan Universitas Andalas (UNAND) Padang.

–          wilayah II meliputi Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Universitas Brawijaya (UB) Malang, dan Universitas Udayana (UNUD).

–          wilayah III meliputi Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, Universitas Haluoleo (UNHALU) Kendari, Universitas Tadulako (UNTAD) Palu, Universitas Khairun Ternate, dan Universitas Cendrawasih (UNCEN) Papua.

 

Kegiatan yang menjadi agenda rutin JKAI adalah acara Pra-Sarasehan dan Sarasehan Nasional. Acara Sarasehan dilaksanakan dua tahun sekali, dimana sebelumnya digelar acara Pra-sarasehan untuk mempersiapkan acara Sarasehan yang akan berlangsung kemudian. Dapat disimpulkan bahwa acara JKAI yang berupa Pra-Sarasehan dan Sarasehan berlangsung secara silih berganti setiap tahunnya.

Acara Sarasehan beragendakan kongres dan seminar nasional, dimana dalam kongres ini akan di pilih Sekjen untuk memimpin JKAI selama dua tahun kedepan, dan juga ada agenda pembahasan AD/ART. Pra-Sarasehan merupakan acara untuk mempersiapkan agenda Sarasehan dimana akan ditentukan tempat (kampus terpilih) untuk melaksanakan kegiatan JKAI selanjutnya. Dalam acara ini juga ditentukan tema apa yang tepat untuk melangsungkan Seminar Nasional dimana nantinya setiap universitas akan mengirimkan delegasi untuk mempresentasikan makalah sesuai dengan tema yang ditentukan. Tema seminar ini biasanya merupakan isu-isu terkait dengan disiplin ilmu antropologi, sehingga diharapkan setiap peserta dapat berdiskusi dan berbagi ilmu kepada delegasi-delegasi yang hadir dalam acara ini. Rangkaian acara terakhir dari kegiatan ini adalah kunjungan wisata ke tempat-tempat yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana agar para delegasi dapat melepas kepenatan dan juga saling mengakrabkan diri satu sama lain, sehingga nantinya diharapkan dapat terjalin hubungan yang baik dalam Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia. (Ellin Khairani)