Home » Sejarah » Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian I: Awal Kebangkitan

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian I: Awal Kebangkitan

Berdasarkan periode pendaftaran mahasiswa angkatan pertama, disepakati bahwa kelahiran jurusan Antropologi adalah bulan September 1964, tanpa menentukan tanggal kelahirannya. Dengan dibukannya jurusan ini, pada tahun itu di Indonesia telah berdiri tiga jurusan Antropologi. Universitas Indonesia (1957), kemudian di Universitas Padjajaran (1960). Pluralitas suku bangsa-suku bangsa dan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi salah satu alasan utama berdirinya jurusan ini. Diharapkan dengan dibangunnya jurusan ini akan mampu mendidik dan menyiapkan tenaga ahli di bidang kebudayaan untuk menjembatani dan mengambil bagian penting dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kemungkinan muncul akibat perbedaan kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia.

Fakultas Sastra dan Kebudayaan, pada waktu jurusan Antropologi Budaya didirikan, berada di Dalem Yudonegaran dan sebuah bangunan lainnya di sebelah Barat Dalem tersebut. Sewaktu berdiri menjadi sebuah disiplin ilmu baru di UGM, jurusan Antropologi diketuai oleh Prof. R. Soemadi Soemowidagdo, seorang ahli Indologi dan Guru Besar Bahasa Arab, keluaran Universitas Leiden. Sedangkan tenaga pengajar yang betul-betul ahli Antropologi by training sebetulnya tidak tersedia pada waktu itu. Jadi di sinilah letak keberanian UGM sebagai Universitas perjuangan yang nekat mengambil resiko untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Universitas Gadjah Mada yang pada waktu itu dipimpin oleh Prof. Herman Johannes sadar betul dengan persoalan tidak adanya tenaga pengajar di jurusan Antropologi Budaya. Bersama dengan pimpinan Fakultas Sastra  dan Kebudayaan yang dipimpin oleh Prof. Dra. Siti Baroroh Baried dan Ketua Jurusan Antropologi Budaya, lalu diusahakan untuk mendatangkan tenaga pengajar dari Universitas Indonesia. Lantas, Prof. Dr. Koentjaraningrat yang didatangkan untuk memberikan kuliah Pengantar Antropologi  didampingi oleh asisten beliau. Selain itu Fakultas berhasil mendatangkan Drs. R.P. Soejono untuk memberikan kuliah Prehistori dengan waktu pertemuan yang terbatas.

Setahun kemudian, tanggal 16 September 1975, sejumlah 46 orang dari 111 mahasiswa dinyatakan lulus tingkat Propaduce. Artinya mahasiswa yang diwisuda itu berhak untuk melanjutkan kuliah ditingkat Baceloriat, untuk mendapatkan gelar Bachelor of Arts (BA). Pada September itu pula, jurusan menerima mahasiswa angkatan kedua dengan jumlah 62 orang. Kemudian, saat mencuatnya peristiwa G30S/PKI, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, pindah ke daerah Karang Malang. Di situasi seperti itu, beruntung Prof. Dr. Soedjito dari Jurusan Sosiologi Fakultas Sosial dan Politik bersedia mengajar mata kuliah Pengantar Sosiologi dan Metode Penelitian Sosial, sedangkan Pengantar Psikologi diberikan oleh Drs. M. Masrun dan Hasan Basri, BA.

*Dirangkum dari “SAMPAI MANA KAKI MELANGKAH DAN KEMANA HALUAN AKAN DIARAH: Refleksi 42 Tahun Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 1964-2006” Oleh Prof. Dr. Sjafri Sairin.