Home » Sejarah » Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian II: Masa Pertumbuhan

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian II: Masa Pertumbuhan

Tahun 1968 jurusan kembali meluluskan enam orang mahasiswa tingkat Sarjana Muda yaitu Sjamsir Alam, Abdul Moefti, Sjafri Sairin, Gatut Murniatmo, Ariani dan Mulyadi. Dan beberapa bulan kemudian disusul oleh lulusan lainnya. Pada saat wisuda inilah kemudian mahasiswa bertemu dengan Drs. Kodiran, seorang Antropolog lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada yang bersedia menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Namun, sebagai satu-satunya Antropolog by training yang ada di Universitas Gadjah Mada tentu beliau mempunyai keterbatasan waktu untuk mengajar. Dengan upaya keras akhirnya Drs. S. Budhi Santoso dan Drs. Jimmy Tan atau J. Dananjaya bersedia untuk mengajar di jurusan Antropologi UGM.

Dalam periode ini, Prof. Dr. Koentjaraningrat menyarankan untuk menutup tingkat doktoral, dan mengupayakan untuk dapat menyelesaikan mahasiswa tingkat doktoral yang telah ada. Untuk mempercepat proses penyelesaian mahasiswa itu, Hari Poerwanto kemudian terpilih untuk mengikuti “pencangkokan” di jurusan Antropologi Universitas Indonesia selama setahun, kemudian disusul oleh Pudjo Hastjarjo.

Pada tahun 1970, kembali Jurusan Antropologi pindah kantor, mengikuti kepindahan Fakultas Sastra dan Kebudayaan ke Bulaksumur. Beberapa tenaga tamu dan pengajar asing mulai menyumbangkan tenaganya untuk mengajar di jurusan Antropologi, antara lain Drs. Nico L. Kana, MA dari Universitas Satyawacana, Salatiga, Ward Keeler, dari Universitas Cornell dan J. Weis, seorang antropolog dari Amerika. Tugas sukarela untuk mengajar ini dilakukan juga oleh Patrick Guinness, MA dari Australia dan Dr. Parsudi Suparlan pada tahun 1970an. Pada periode yang sama Drs. H.J. Daeng sarjana Antropologi lulusan UI diangkat menjadi dosen tetap di jurusan Antropologi UGM. Sementara itu ketua jurusan Antropologi dijabat oleh Drs. Kodiran.

Pada tahun 1972, Prof. Koentjaraningrat kembali mengajar mahasiswa tingkat doktoral Antropologi bersama dengan Prof. Dr. J. Vredenbergt yang juga mengajar mahasiswa tingkat doctoral. November 1973, Sjafri Sairin dan Hari Poewanto berhasil menyelesaikan studinya di bawah bimbingan Prof. Dr. J. Vredenbregt. Inilah gelombang pertama jurusan Antropologi UGM menetaskan mahasiswa untuk tingkat sarjana. Perkembangannya, Drs. Sjafri Sairin dan Drs. Hari Poerwanto diusulkan menjadi tenaga pengajar di jurusan Antropologi Fakultas Sastra, nama baru Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

*Dirangkum dari “SAMPAI MANA KAKI MELANGKAH DAN KEMANA HALUAN AKAN DIARAH: Refleksi 42 Tahun Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 1964-2006” Oleh Prof. Dr. Sjafri Sairin.