Home » Sejarah » Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian III: Masa Pengembangan

Sejarah Jurusan Antropologi UGM – Bagian III: Masa Pengembangan

Jumlah mahasiswa antropologi yang dapat menyelesaikan studinya bertambah antara lain, Drs. Soehardi, Drs. Buchari dan Drs. Gatut Murniatmo. Drs. Soehardi kemudian direkrut sebagai tenaga pengajar di jurusan. Pada tahun-tahun berikutnya tenaga pengajar bertambah dengan diterimanya Dra. Tuty Gandarsih, lulusan Universitas Padjajaran dan Drs. Amin Yitno (UGM) sebagai tenaga pengajar di jurusan.

Dr. Masri Singarimbun yang sudah menjadi tenaga pengajar tetap di Jurusan Antropologi berupaya untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar  Jurusan Antropologi di bidang penelitian, dengan merekrut sejumlah pengajar untuk menjadi staf peneliti maupun asisten peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan yang beliau pimpin. Ditahun 1977/1978, dari hasil dana proyek penelitian transmigrasi, jurusan berhasil membangun sebuah gedung yang terletak di sebelah kompleks Fakultas Sastra UGM.

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas dosen di bidang keilmuan, tahun 1977/1978, Drs. Kodiran berangkat ke Philipina dan Drs. Sjafri Sairin ke Australia untuk mengambil program MA. Disusul juga oleh Drs. Amin Yitno yang berangkat untuk belajar ke Australia. Sementara itu Drs. Hari Poerwanto dan Drs. H.J. Daeng mengikuti program Doktor di bawah bimbingan Prof. Dr. Koentjaraningrat. Menjelang akhir tahun 1970, tingkat doktoral di jurusan Antropologi tetap tidak dapat dibuka karena tenaga pengajar yang belum memadai. Untuk menyiapkan tenaga pengajar tambahan, Heddy Shri Ahimsa-Putra, BA dan P.M. Laksono, BA, mengikuti program studi sarjana di UI dan Universitas Leiden. Setelah menyelesaikan studinya, mereka berdua diangkat sebagai dosen tetap di jurusan.

Diakhir 1970-an jurusan Antropologi membuka kembali tingkat doktoral. Seiring dengan itu, perubahan kurikulum nasional terjadi dengan tidak berlakunya lagi program sarjana muda. Pada periode itu Drs. Kodiran dan Drs. Sjafri Sairin sudah berhasil  menyelesaikan studi MA nya dan kembali ke UGM pada awal 1980an. Sementara itu, tenaga pengajar di jurusan bertambah dua orang dengan masuknya Dra. Naniek Kasniyah dan Drs. Mulyadi. Dan di periode yang sama, Drs. Kodiran, MA kembali ke Philipina untuk mengambil Ph.D dan Drs. Sjafri Sairin, MA, ke Amerika. Kemudian disusul pula oleh Drs. Soehardi ke Inggris, Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA dan Drs. P.M. Laksono, MA ke Amerika untuk mengambil gelar yang sama. Semetara itu Drs. Naniek Kasniyah, MA berangkat ke Australia untuk mengambil program Master di bidang kesehatan.

Sekitar pertengahan tahun 1980an, staf pengajar Antropologi bertambah dengan diterimanya Dra Atik Triratnawati, Drs. Bambang Hudayana, Dra Anna Marie Wattie, Drs. Pande Made Kutanegara, Drs. Irwan Abdullah, Drs. Aris Arif Mundayat dan Drs. Lono Lastoro Simatupang sebagai tenaga pengajar. Pada tahun 1990an, dosen-dosen muda di jurusan Antropologi juga mulai belajar ke luar negeri. Diantaranya Irwan Abdullah yang berhasil mendapat gelar S3 dari Universitas Amsterdam, Bambang Hudayana mendapat gelar MA dari Australian Nasional University, Anna Marie Wattie mendapat MA dan Dr. dari Universitas Amsterdam dan Atik Triratnawati yang mendapat MA dari sebuah universitas di Thailand. Drs. Mulyadi memperoleh MA dari UGM dan Tuty Gandarsih berhasil memperoleh MA dari Institut Pertanian Bogor. Pada pertengahan 1990an, tenaga pengajar di jurusan bertambah dengan masuknya Pujo Semedi menjadi dosen, disusul oleh Setiadi, S.Sos.

Awal 1990, jurusan semakin bertambah kuat dengan dikukuhkannya Dr. Masri Singarimbun sebagai Guru Besar Antropologi UGM. Beliau adalah Guru Besar pertama di bidang Antropologi di jurusan. Sejumlah tenaga pengajar dengan kualifikasi S3, memantapkan jurusan membuka program S2 Antropologi dan melalui program Pascasarjana UGM membuka pula program S3 Antropologi di bawah bimbingan Prof. Masri Singarimbun dan Prof. Dr. Umar Kayam. Pada tahun 1996, Prof. Dr. Masri Singarimbun meninggal. Di tahun 1998 Sjafri Sairin diangkat menjadi Guru Besar Antropologi, kemudian disusul oleh Dr. Kodiran dan Dr. Hari Poerwanto. Di seputar periode itu, sejumlah pengajar Antropologi berangkat ke luar negeri untuk mengambil gelar S3. Namun tanpa diduga sebelumnya, Dr. H.J. Daeng, meninggalkan kita selama-lamanya. Sementara, Drs. Amin Yitno memasuki masa pensiun.

*Dirangkum dari “SAMPAI MANA KAKI MELANGKAH DAN KEMANA HALUAN AKAN DIARAH: Refleksi 42 Tahun Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 1964-2006” Oleh Prof. Dr. Sjafri Sairin.