• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat IT
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Surel
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Sekilas Pandang
    • Dosen
    • Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Antropologi Budaya (S1)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Ujian Skripsi dan Yudisium
    • Magister Antropologi (S2)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Ujian Tesis dan Yudisium
    • Doktor Antropologi (S3)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Tahapan Perkuliahan
    • Pendukung Pembelajaran
      • Titen
  • Riset Publikasi & Kepustakaan
    • Kerja Sama
      • Internasional
      • Nasional
    • Penelitian & Publikasi
      • Ringkasan Kebijakan
      • Plantation Life
    • Pelatihan & Pengabdian Masyarakat
    • Lembaran Antropologi
    • Laboratorium Antropologi
    • Perpustakaan Antropologi
    • Newsletter
  • Kemahasiswaan
    • International Student
      • International Student Application
      • Global Mobility Erasmus +
      • Credit Conversion Guide
    • Tim Penelitian Lapangan
    • Keluarga Mahasiswa Antropologi
    • Ruang Kerja Mahasiswa
    • Alumni
    • Lowongan Karir
  • Akreditasi
    • Appendix ACQUIN
    • Akreditasi Nasional
  • Kontak
  • Home
  • Cerita Kerja Lapangan

Pasar Petani di Waldkirch, Schwarzwald, Jerman

  • Cerita Kerja Lapangan
  • 18 Juni 2018, 10.00
  • Oleh : m.alifaiq

Pada awalnya saya berencana langsung melakukan penelitian pengelolaan lingkungan hutan dan pertanian di wilayah Schwarzwald, Black Forest, di Jerman Selatan. Namun saat memulai kerja di musim panas 2017, saya mendapat tempat tinggal di Ihringen, desa pertanian anggur di wilayah Kaiserstuhl, yang sedikit berada di luar Schwarzwald. Di Ihringen saya mengumpulkan data tentang budidaya dan pengolahan anggur yang sudah dimulai sejak Jaman Romawi, abad ke 10. Saya memasuki Schwarzwald  mengikuti Michel, petani sayur dan buah organik dari Ihringen yang menjual hasil panen di Marktplatz, Waldkirch, sebuah kota tua di Schwarzwald yang terkenal dengan industri alat musik organ tiup. Marktplatz, dengan tugu pancuran air gunung yang jernih dan bisa diminum langsung, terletak di depan balaikota dengan hari pasar Rabu dan Sabtu.

Kota-kota di Jerman punya pasar mingguan, seperti di Jawa masa lalu ketika pasar belum menjadi kegiatan rutin harian. Pedagang di Marktplatz sebagian adalah petani yang bekerja total dari budidaya hingga ke penjualan untuk memaksimalkan usaha. Mereka membawa panen rumah pertanian, hof, masing-masing; sayur, buah, madu, keju, roti dan sosis. Ada juga penjual hasil kriya dari kayu, sabun, selai, minyak ekstrak, jamu daun-daunan, ikan laut dan daging segar.

Jam 7 pagi para pedagang mulai berdatangan dengan trailernya. Mereka segera memasang tenda , menggelar barang dagangan di atas meja sambil saling menyapa. Sayur dan buah yang harus laku hari ini dipasang di posisi prima yang segera menarik pandangan pembeli, sayur yang lebih awet dipasang agak di samping dan belakang. Belum lagi semua kios buka, pembeli sudah mulai berdatangan, berbelanja keperluan harian. Mereka menghampiri kios langganan meminta sayur ini, buah itu: “Yang bagus ya ..”. Pedagang dengan grapyak, menyapa pembeli. Michel yang lama tinggal di Itali, menyambut seorang pelanggannya, “Nicoletta mia bella. Ini saya bawakan buah ceri spesial dari kebun Wasenweiler”.  Karl penjual madu dengan serius menjelaskan kepada seorang pembeli: “Tahun ini, panen banyak madu akasia dari hutan Wildtal”.

Di Marktplatz Waldkirch orang belanja makanan, buah dan sayuran segar yang ada asal usul dan ceriteranya; ditanam petani siapa, di desa mana. Pasar Waldkirch menjadi tempat bertemu kawan, minum kopi bersama; menjadi ruang publik para petani dan penduduk desa, tempat bertukar kabar, bertegur sapa. Pasar Waldkirch adalah arena yang ramai dan penuh daya hidup, namun menurut Michel  tradisi ratusan tahun ini kian redup riwayatnya.

Pasar Waldkirch saat ini diterpa arus jaman. Kebanyakan hanya orang tua yang berbelanja dan penjualnya juga petani yang kian menua tanpa ada tanda kedatangan penerusnya. Orang-orang muda yang sibuk lebih suka membeli bahan sayur dan buah plastikan, yang entah dari mana negeri asalnya, di supermarket. Kebanyakan anak-anak petani enggan meneruskan usaha orang tua. Tanah disewakan ke perusahaan raksasa pertanian yang dikendalikan oleh rasionalitas mencari laba. Para pemuda berbondong memasuki dunia usaha. Bekerja di pabrik-pabrik modern, memakan sayur dan buah produk industri.

Michel agak dramatis namun mungkin ada benarnya juga. Musim panas lalu para pedagang meletakkan buket dan lentera lilin menyala, tanda duka cita, di tempat biasanya Heinz petani sayur dari Botzingen selama 40 tahun berdagang. Ia meninggal terkena serangan jantung. Tahun ini, saya melihat tempat Heinz tetap kosong, tidak ada yang menggantikannya.

Oleh: Pujo Semedi

Tags: Antropologi Pasar Petani di Waldkirch pujo semedi

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

Master Research Scholarship 2019 – Vienna, Austria

Beasiswa Penelitian Jumat, 30 Agustus 2019

Christmas in Europe is celebrated as a happy event for everyone across social classes, ethnicities, nationalities and religious denomination. For thousands of years it has been a tradition for towns and cities to stage Christmas market, that last for six weeks.

Refleksi Metodologis Bertemu orang Vietnam di Jerman Selatan

Cerita Kerja Lapangan Jumat, 22 Juni 2018

Kontak antara Vietnam dengan Jerman tercatat telah terjadi secara intensif sejak tahun 1955 hingga awal tahun 1980-an. Situasi dunia saat itu mendorong perpindahan besar penduduk Vietnam ke Jerman dengan berbagai latar belakang: dari kerjasama bilateral, hingga perang dan pengungsian.

Farming for Conscious Consumption: Studi tentang Andelslandbruk di Vest-Agder, Norwegia

Cerita Kerja Lapangan Kamis, 14 Juni 2018

Bidang pertanian di Norwegia semula adalah bisnis keluarga yang turun-temurun, tetapi mengalami transisi dengan adanya rasionalisasi pemasaran produk pertanian melalui koperasi dan beberapa perubahan kebijakan hingga akhir abad ke 20 (Larkin, 1987; Klimek dan Hansen, 2017) sehingga saat ini pasar hasil pertanian terintegrasi dalam koperasi dan grossist (retail).

Sepotong Kisah dari Pelabuhan Kristiansand

Cerita Kerja Lapangan Sabtu, 19 Mei 2018

Saya selalu teringat dengan pernyataan James Acheson dalam tulisannya yang berjudul “The Anthropology of Fishing” (1981) dimana ia berargumen bahwa profesi sebagai nelayan penuh dengan ketidakpastian dan mereka tidak bisa merubah keadaan tersebut.

Rilis Berita

  • Pengumuman Seleksi Tridem Freiburg-Koln 2026
    10 April 2026
  • Pengumuman Dosen Pembimbing Hasil Seminar Proposal S1 Antropologi Budaya Semester Genap 2025/2026
    10 April 2026
  • Teknis Pelaksanaan Sempro S2 Antropologi Semester Genap 2025/2026
    9 April 2026
  • Teknis Pelaksanaan Sempro S1 Antropologi Budaya UGM Semester Genap 2025/2026
    30 Maret 2026
  • Visiting Lecture: Ageing and Digital Welfare on the German-Polish Border
    13 Maret 2026
Universitas Gadjah Mada

Departemen Antropologi

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

Gd. R. Soegondo lt. 5, Jl. Sosiohumaniora 1,
Bulaksumur, Yogyakarta, 55281, Indonesia

Laman Terkait

  • Universitas Gadjah Mada
  • Ujian Masuk UGM
  • Fakultas Ilmu Budaya UGM
  • Kantor Urusan Internasional UGM
  • Perpustakaan UGM
  • SIMASTER UGM
  • Peta Situs

© 2024 Departemen Antropologi FIB UGM