• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat IT
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Surel
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Sekilas Pandang
    • Dosen
    • Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Antropologi Budaya (S1)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Ujian Skripsi dan Yudisium
    • Magister Antropologi (S2)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Ujian Tesis dan Yudisium
    • Doktor Antropologi (S3)
      • Pendaftaran
      • Kurikulum
      • Tahapan Perkuliahan
    • Pendukung Pembelajaran
      • Titen
  • Riset Publikasi & Kepustakaan
    • Kerja Sama
      • Internasional
      • Nasional
    • Penelitian & Publikasi
      • Ringkasan Kebijakan
      • Plantation Life
    • Pelatihan & Pengabdian Masyarakat
    • Lembaran Antropologi
    • Laboratorium Antropologi
    • Perpustakaan Antropologi
    • Newsletter
  • Kemahasiswaan
    • International Student
      • International Student Application
      • Global Mobility Erasmus +
      • Credit Conversion Guide
    • Tim Penelitian Lapangan
    • Keluarga Mahasiswa Antropologi
    • Ruang Kerja Mahasiswa
    • Alumni
    • Lowongan Karir
  • Akreditasi
    • Appendix ACQUIN
    • Akreditasi Nasional
  • Kontak
  • Home
  • Cerita Kerja Lapangan

Seks met Dieren: Relasi Seksual Manusia-Hewan di Belanda

  • Cerita Kerja Lapangan
  • 18 Mei 2018, 11.12
  • Oleh : m.alifaiq

 

Pada kisaran tahun 2012-2013, Indonesia diguncang dengan pemberitaan tentang Pony Orangutan yang dijadikan objek seks komersial di salah satu perkampungan di area perkebunan kelapa sawit daerah Kerengpangi, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Ternyata, relasi seksual manusia-hewan (bestialitas) tidak hanya terjadi di Indonesia. Eropa, dengan segala modernitasnya, mencatat hal yang sama. Nimoeller (1946) menyatakan bahwa praktik bestialitas merupakan hal yang well-established dalam kehidupan masyarakat di Eropa. Beberapa media internasional juga memberitakan adanya Bestiality Brothels sebagai tempat prostitusi khusus hubungan seks dengan hewan. Namun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, negara-negara di Eropa mulai menetapkan hukum pidana atas tindakan bestialitas. Penetapan hukum ini menjadi indikasi bahwa bestialitas masih terjadi dan disikapi secara serius di Eropa.

Riset ini mengambil studi kasus Belanda sebagai negara Eropa yang paling aktif dalam memberikan ruang terhadap freedom of sexuality. Langkah Belanda dalam menetapkan hukum pidana atas bestialitas pada tahun 2010 menimbulkan pertanyaan besar sebab Belanda adalah negara pertama yang melegalkan kebebasan terkait seksualitas, seperti prostitusi (2000) dan pernikahan sejenis/homoseksual (2001). Belanda juga menjadi pemasok terbesar 80% video pornografi bestialitas di seluruh dunia (Algemeen Dagblad, 2007). Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa bestialitas di Belanda dilarang? Bagaimana masyarakat Belanda memandang bestialitas? Bagaimana sebenarnya normativitas seksual Belanda yang mengatur sejauh mana tindak seksual dibebaskan dan dibatasi?

Selama melakukan riset lapangan di Amsterdam, penulis menemukan bahwa selain freedom of sexuality, diskursus animal protection juga memiliki pengaruh yang kuat. Belanda bahkan memiliki partai khusus perlindungan hewan yaitu Partij voor de Dieren (PvdD). Namun dinamika menjadi menarik karena yang mengusulkan Undang-Undang pelarangan justru dari Partai Buruh (Partij voor de Arbeid). Hal ini dilakukan untuk melawan stigma bahwa bestialitas dekat dengan kaum buruh, petani, dan peternak dari daerah rural yang lebih sering bersinggungan dengan hewan. Selain itu, sexual consent menjadi hal utama dalam berbicara masalah seksualitas Belanda. Normativitas seksual di Belanda tidak lagi mempermasalahkan antara heteronormativity dan homonormativity, namun lebih pada human normativity dengan batasan consent. Dalam hal ini, hewan dianggap tidak memiliki kemampuan menyatakan consent sehingga relasi seksual dengan hewan dianggap sebagai tindak kekerasan. Kondisi ini menyebabkan: (1) pergerakan komunitas zoofile di Belanda cenderung tersembunyi; (2) Bestiality Brothels cenderung bersifat privat dalam jaringan eksklusif; (3) Produksi dan distribusi video pornografi bestialitas dilakukan antar personal; (4) Tindak bestialitas berdampak pada isolasi sosial bahkan sampai pada tataran isolasi keluarga. Hal tersebut menjadi karakteristik bestialitas di Belanda

Oleh: Salfiah Rahmawati

Tags: anthropology freedom of sexuality relasi seksual manusia-hewan

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

Farming for Conscious Consumption: Studi tentang Andelslandbruk di Vest-Agder, Norwegia

Cerita Kerja Lapangan Kamis, 14 Juni 2018

Bidang pertanian di Norwegia semula adalah bisnis keluarga yang turun-temurun, tetapi mengalami transisi dengan adanya rasionalisasi pemasaran produk pertanian melalui koperasi dan beberapa perubahan kebijakan hingga akhir abad ke 20 (Larkin, 1987; Klimek dan Hansen, 2017) sehingga saat ini pasar hasil pertanian terintegrasi dalam koperasi dan grossist (retail).

Character Building of Parenting in Norwegian Family

Cerita Kerja Lapangan Rabu, 16 Mei 2018

Kajian parenting di Keluarga Norwegia beberapa dekade belakangan ini, sering berfokus pada manifestasi parenting dari orangtua kepada anak[1].

Pengumuman Seleksi Tridem Freiburg-Koln 2026

Beasiswa PenelitianBerita Jumat, 10 April 2026

Bersama ini kami sampaikan hasil kerja Dewan Penilai terhadap 7 (tujuh) peserta seleksi Tridem Freiburg 2026 yang telah melalui rangkaian seleksi berupa proposal dan wawancara.
Berdasarkan evaluasi yang seksama, sistematis, dan netral, Dewan Penilai memberikan nilai tertinggi kepada:

  • Ayesha Nuriya Hanan
  • Bernadien Pramudita Tantya Kirana
  • Athagiina Imela Sharira Hanung
  • Raden Ahmad Imam Surya 

Keempat mahasiswa akan segera dihubungi oleh Kesekretariatan Departemen Antropologi terkait informasi lebih lanjut.
Kepada kawan-kawan lain yang sudah mengikuti seleksi, disampaikan terima kasih banyak atas antusiasmenya.

Pengumuman Dosen Pembimbing Hasil Seminar Proposal S1 Antropologi Budaya Semester Genap 2025/2026

AkademikBerita Jumat, 10 April 2026

Diberitahukan kepada mahasiswa S1 Antropologi Budaya yang sudah mengikuti Seminar Proposal Skripsi pada 6 April 2026, berikut kami informasikan tentang pembagian daftar mahasiswa bimbingan beserta dengan dosen pembimbing skripsi:

Hasil Seminar Proposal Skripsi Genap 2025

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Setelah seminar proposal, mahasiswa diharapkan untuk segera melakukan revisi proposal sebelum melakukan pembimbingan awal dengan dosen pembimbing yang sudah ditentukan.

Rilis Berita

  • Pengumuman Seleksi Tridem Freiburg-Koln 2026
    10 April 2026
  • Pengumuman Dosen Pembimbing Hasil Seminar Proposal S1 Antropologi Budaya Semester Genap 2025/2026
    10 April 2026
  • Teknis Pelaksanaan Sempro S2 Antropologi Semester Genap 2025/2026
    9 April 2026
  • Teknis Pelaksanaan Sempro S1 Antropologi Budaya UGM Semester Genap 2025/2026
    30 Maret 2026
  • Visiting Lecture: Ageing and Digital Welfare on the German-Polish Border
    13 Maret 2026
Universitas Gadjah Mada

Departemen Antropologi

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

Gd. R. Soegondo lt. 5, Jl. Sosiohumaniora 1,
Bulaksumur, Yogyakarta, 55281, Indonesia

Laman Terkait

  • Universitas Gadjah Mada
  • Ujian Masuk UGM
  • Fakultas Ilmu Budaya UGM
  • Kantor Urusan Internasional UGM
  • Perpustakaan UGM
  • SIMASTER UGM
  • Peta Situs

© 2024 Departemen Antropologi FIB UGM